Asal Muasal Nama Cemong

Dulu waktu sekolah SMP saya termasuk anak yang paling heboh (sering membuat kelas ketawa) karena saya suka nylemong (

nylemong adalah kata bahasa Jawa yang berawal huruf n. Dan dalam bahasa Indonesia memiliki arti berbicara tanpa ada artinya :Red) jadi hoby yang satu ini ternyata menjadi kebiasaanku waktu SMP. hingga misal aku tidak berangkat maka teman-temanku bilang kelas jadi sepi. Tapi aku nylemongnya gak saru loh, dan lihat kondisi kelas lagi bete apa lagi nyante, kalo lagi bete baru aku bikin sesuatu yang bisa membuat suasana kembali ceria.

Di tingkat pertama itu aku mendapati seorang teman yang ternyata setipikal dengan aku (tukang nylemong), jadi aku dan dia kadang saling lempar clemongan hingga suasana kelas menjadi ramai (gak sampai gaduh sih, paling pak guru / bu guru ngelus dada tok, xixixixi..) Namanya Rushadi Yuli Kurniawan, panggilannya Wawan namun seiring berjalannya waktu karena kami bila bertegur sapa biasa memanggil mbah “pime mbah? (bagaima mbah :red). hingga teman-teman pun ikut memanggil simbah pada wawan, tapi kadang teman-teman sampai bingung siapa sih diantara kami yang panggilannya si-mbah, karena ya itu tadi kami sering bertegur sapa dengan sebutan mbah…. tapi biarlah wong itu bukan nama kami kok.

Hingga pada suatu saat ada class miting (waktu jeda setelah tes) sekolah kami mengadakan lomba-lomba antar kelas dari kelas 1 sampai kelas 3, dan kami (aku dan si wawan) pun memberanikan diri ikut salah satu lomba di sekolah itu, yakni lomba lawak. Ini menunjukkan bahwa kami bukan hanya berani nylemong, tapi kami juga berani menampilkan banyolan-banyolan kami di tempat umum, karena banyolan-banyolan yang kami buat bisa kami pertanggungjawabkan, (sok bangeet…) dan kenekatan kami tak sia-sia kami berhasil meraih juara, walau hanya peringkat III, dari seluruh peserta (kalau tidak salah hampir lebih dari 10 peserta, lupa xixiii…) Bahkan salah satu guru killer Pak Ega guru PMP (sekarang PKn) pada saat kami mengeluarkan banyolan sampai terkekeh-kekeh dan sampai menangis tertawanya saking tidak kuat menahan tawa. Dan sejak perlombaan itu kami jadi semakin di kenal di lingkungan sekolah, banyak yang meniru banyolan-banyolan kami. Kami hanua bisa tersenyum dan merasa gimana gituh….

Di tingkat kedua ternyata aku dan sahabat aku wawan (simbah) masih satu kelas, karena memang di SMP kami bila ada kenaikan kelas, pasti anggota kelasnya di pindah-pindah kelas, entah apa maksudnya, mungkin penyegaran. Atau pengelompokkan prestasi aku tak tau. Tapi yang yang jelas aku dan simbah di tempatkan di kelas II E, dan itu adalah kelas terakhir, gak tau deh ada apa dengan kelas II E. Ternyata makin parah saudara!! Ternyata anggota kelas II E lebih heboh dari kelas I dulu, semua hampir doyan nylemong, dari dari semuanya masih kami yang nomor satu, akrena clemongan-clemongan kami lebih berani dan lebih membuat Grrrr seluruh pelosok kelas (heboh banget….)

Dan di tingkat kedua ini aku dapati salah satu teman lagi yang gokil, lucu tapi jujur. Ya waktu itu pas Pak Ega (guru killer) lagi ngajar di kelas kami, seperti biasa kelas hening tak bersuara sedikitpun, bahkan suara nafas pun mungkin tak terdengar, hanya suara pak ega yang sedang menyampaikan materi pelajarannya, entah apa aku lupa…. Namun dalam keheningan kelas itu tiba-tiba terdengar bunyi yang aneh pendek “tuut…” semua mata pun saling memandang aku yang duduk dengan simbah pun saling pandang dan curiga serta mencoba mencari asal bunyi aneh itu. Dan pada saat kami mencoba mencari sumber suara tersebut, tiba-tiba bunyi itu muncul lagi, malah tapi kali ini panjang dan bernada “ttiiiiuuuuuuuuuuuuut….” dan kami pun menahan tawa, cekikikan karena takut kena marah Pak Ega, dan tiba-tiba sesorang yang duduk persis di depan bangku kami mengacungkan tangan dan berkata “Maaf pak saya tidak sengaja…” Grrrrrr,,,, kelaspun menjadi riuh karena ulah sianak malang ini,, tapi aku salut akan kejujurannya dan keberanianya mengakui perbuatannya, dari situlah akhirnya si anak ini kami rekrut untuk bergabung dengan kami, setiap istirahat, kami sering ajak dia berkumpul dengan kami dan kamipun sering ┬ámembuat banyolan-banyolan bareng dengan dia. Dia adalah Imam Santoso yang kemudian di panggil Si Boim.

Semenjak kami bertiga, kami menyebut diri kami “cemong” dan itu adalah singkatan yang memiliki kepanjangan Bocah Cecel Doyang Nylemong (Anak Rusak Suka Ngomong tak perlu :Red) yah kami semakin menjadi-jadi boleh dibilang ini puncak keisengan kami. Pernah suatu cerita waktu itu pelajaran Geografi, dan ini adalah pelajaran yang sangat memuyengkan pikiran aku. dan kebetulan Pak gurunya yang ngajar sukanya bercanda hingga tak terasa puyeng, Namun kali ini pada saat beliau mau mengisi pelajaran di kelas kami, baru saja beliau di depan pintu kelas kami, ada salah satu teman kami yang nylemong “Pak dina kie sing lucu pak, yen ora lucu mendingan ra usah ngajar!” (Pak hari ini yang lucu pak, kalau tidak lucu, lebih baik tidak usah mengajar :Red) sontak muka beliau memerah, dan aku tahu, itu bukan muka biasa yang beliau tunjukkan pada kami. “Baik saya tidak akan mengajar kalian lagi, Pak guru disini akan mengajar kalian bukan untuk menghibur kalian” seluruh ruangan yang tadinya riuh penuh tawa, tiba-tiba hening tak berbisik. Aku tahu beliau sangat marah dengan ulah kami, dan Aku tahu clemongan tadi membuat hati beliau sakit. Namun saat itu kami entah mengapa justru merasa senang dan tertawa gembira dengan jawaban Pak guru tadi. Dan beliau pun langsung pergi memninggalkan kelas kami.

Sejak kejadian itu hampir sebulan lebih kami tak diajari pelajaran Geografi, karena bila pas pelajaran itu, pasti beliau tak mau masuk ke kelas kami, hingga pada akhirnya kelas kamipun dipanggil ke ruang BP (Bimbingan dan Penyuluhan) hayoo siapa yang sering mampir ke ruang ini? Pasti deh sering buat gara-gara?? Yah saat itu kalau tidak salah kami ber 14 anak, termasuk cemong (aku, simbah dan si boim) kami disuruh membuat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi (mengolok-olok guru) dan kami pun diberi sanksi, bila kami mengulangi perbuatan itu lagi kami akan dikeluarkan dari sekolah. SLEBB….. duhhh berat juga tuh hukumannya, Sekolah ajah aku SPP sering nunggak, lah kalo ditambah masalah ini bisa berabeh, dikeluarin iya, dimarahin bapak iyah,,,, (cemong takut juga sama bapak aku, bapakku galak banget) Semenjak kejadian itu cemong tidak terlalu sering membuat polah di kelas sehingga kejadian ini cukup membuat kami merasa bersalah dan berusaha memperbaiki diri, (nylemong yang perlu-perlu saja) Tapi memang yang nylemong di atas kan bukan dari cemong sih, kalo tidak salah dari temanku yang bernama Tarjo (Hallo jo, sory jo tak sebut namamu disini, biar keliatan valid, xixixxixii… yen salah pangapurane ya Jo, komplen juga ga pa2 Jo).

HIMBAUAN……

AKU HARAP KEJADIAN INI JANGAN SEMPAI TERULANG LAGI, TERMASUK KALIAN GUESS, JANGAN TIRU ADEGAN DIATAS, KARENA ITU DILAKUAN OLEH PROFESIONAL SAJA,,, xixixixxi becanda… INTINYA YANG BAIK BOLEH DITIRU YANG JELEK JANGAN YAH…

Di tingkat III, ternyata cemong dipecah, pisah kelas karena apa, yang tadi sudah saya jelaskan setiap ada kenaikan kelas, pasti anggota kelas akan di rolling, dan sepertinya pihak sekolah sudah tau keberadaan kami (cemong) hingga kami dipisah tidak satu kelas. Aku di kelas III B (yang rata-rata otaknya encerrr, sedangkan aku???) Simbah dan Boim di kelas III D kalo tidak salah. (kalau salah mohon koreksi brow…) hingga di tingkat III ini hampir tidak ada peristiwa yang menghebohkan bagi kami (cemong) tapi kehebohan kami munculnya di luar kegiatan sekolah. Karena memang kami sering mengadakan kumpul-kumpul entah di rumahku, rumahnya boim atau rumahnya wawan (lama-lama dipanggil simbah).

duuuh cape nih,,, udahan dulu ya ceritanya… nanti disambung lagi, apa yang terjadi setelah lulus SMP, tambah heboh pastinya…

ok, salam cemong…

tobe continued…..

Post Author: cemong

1 thought on “Asal Muasal Nama Cemong

    Hadi

    (30 Juni 2017 - 4:22 PM)

    jadi ingat masa lalu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *