Selamat Hari Guru

GURU YANG DIGUGU DAN DITIRU

Seorang guru yang profesional adalah sosok guru yang selain benar-benar profesional juga harus memiliki sikap kerendahan hati sebagai wujud akhlak yang mulia. Kerendahan hati sebagai karakter itu harus terus terpatri dalam diri seorang guru, yang senantiasa dapat di GUGU dan di TIRU.
Miris memang, ketika kita mendengar banyak kasus guru yang berkonflik dengan orang tua murid karena cara “mendidik” yang di luar batas kewajaran hingga berakhir di pengadilan. Hal demikian tentu karena kurangnya kemuliaan akhlak dan kerendah-hatian dalam proses pembelajaran.
Ada tauladan yang menurut saya yang paling menarik, terjadi antara KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Kholil Bangkalan terkait dengan kemuliaan akhlak dan kerendahan hati ini. Kisah ini bahkan sangat populer di kalangan pesantren di Indonesia.
Alkisah, awalnya Hasyim Asy’ari muda berguru dan nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan. Hasyim Asy’ari muda mempunyai kebiasaan selalu menata sandal milik KH. Kholil saat mengajar atau menjadi imam di masjid sebagai wujud hormat ta’dzim kepada gurunya.
Di kemudian hari, KH. Hasyim Asy’ari menjadi ulama besar dan tersohor sebagai Ahli Hadits dengan mendirikan Pesantren Tebuireng sebagai markas pendidikannya. Banyak para santri senior tamatan pesantren lain bahkan diantaranya telah diangkat sebagai “kyai” di penjuru jawa mau meluangkan waktu untuk kembali berguru ilmu hadits.
Kemasyhuran Ilmu Hadits KH. Hasyim Asy’ari sampai juga di dengar gurunya KH. Kholil sehingga sang guru berminat untuk belajar mengaji kepada KH. Hasyim Asy’ari yang dulu santrinya.
Ketika pengajian berlangsung, KH. Hasyim Asy’ari terkejut atas kehadiran KH. Kholil yang duduk di deretan muridnya. Usai pengajian berlangsung, KH. Hasyim menghampiri KH. Kholil dan berkata: “Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”
Tanpa merasa tersanjung KH. Kholil menjawab: “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan. Kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan.”
Uniknya, usai sholat berjamaah, keduanya saling berlomba menata sandal untuk “gurunya”. TETAPI KH. Kholil menolak dan bersikeras menata sandal milik KH. Hasyim Asy’ari sambil berkata: “di Bangkalan dulu Tuan adalah santri kami, tetapi di sini, kami adalah santri Tuan, maka ijinkan kami gantian menata sandal untuk Tuan”.
Sesungguhnya sangat mungkin seorang murid akhirnya lebih alim dari gurunya, dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan KH. Hasyim dan KH. Cholil, adalah kemuliaan AKHLAK. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati. Hal yang sekarang ini semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita, atau bahkan TIDAK ADA.
Tetapi pertanyaannya: akankah kita memilih tauladan seperti dicontohkan KH. Kholil dan KH. Hasyim Asy’ari, ATAU memilih seperti Guru Oemar Bakri pada bait Iwan Fals yang selalu mengeluh masalah sepeda butut dan gaji??
==========================
SELAMAT HARI GURU para Pendidik,
Engkau tetaplah Pahlawan tanpa Tanda Jasa!

Post Author: cemong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *